STUDI KEBUTUHAN UDARA, KUALITAS KLINKER DAN KADAR NOX PADA PROSES QUENCHING DI PT. SEMEN INDONESIA TUBAN

A. Meidianto, Haetami Haetami, Indriyanti Indriyanti, S Sinasa, R. Sudiantoro

Abstract


Kebutuhan utama manusia untuk bertahan hidup adalah makanan, pakaian, tempat tinggal dan transportasi. Semen merupakan salah bahan baku yang dibutuhkan manusia untuk memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal.Kualitas semen ditentukan dari kualitas klinker yang dihasilkan. Quenching merupakan salah satu proses yang berpengaruh terhadap kualitas klinker. Quenching merupakan proses pendinginan mendadak klinker untuk menghambat reaksi balik C3S menjadi CaO, sehingga semen memiliki sifat kuat tekan awal yang baik. PT. Semen Indonesia Pabrik Tuban menggunakan udara sebagai coolant untuk proses quenching. Udara yang dipanaskan pada suhu tinggi berakibat pada pembentukan gas NOx sebagai polutan udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses quenching di PT. Semen Indonesia Pabrik Tuban Plant Tuban 1 selama periode 1-30 Januari 2016. Data pendukung diambil dari Laboratorium Pengendalian Proses PT. Semen Indonesia Pabrik Tuban. Pengolahan data menunjukkan kualitas klinker rata-rata yang dihasilkan adalah C3S 63,75957 wt%, C2S 10,96844 wt%, C3A 9,450861 wt%, C4AF 11,10668 wt%, CaO 1,266481 wt% dan senyawa lainnya sebesar 3,447969 wt% dengan rata-rata produksi sebesar 82000 ton/hari. Analisis lebih lanjut menunjukkan kebutuhan udara rata-rata pada proses quenching sebesar 22.849,18 ton/hari, serta NOx yang dihasilkan sebesar 289,854 mg/m3.hari. Udara yang keluar dengan suhu 1200oC mampu membangkitkan listrik hingga 36270 kWh dengan . Hasil analisis menunjukkan proses quenching yang dilakukan mampu menghasilkan klinker dengan kualitas yang baik ( C3S > 60 wt%) dan NOx yang dihasilkan memiliki kadar <1000 mg/m3 yang memenuhi baku mutu lingkungan dan mampu menghasilkan

References


D. Xu, Y. Cui, H. Li, K. Yang, W. Xu, and Y. Chen, “Cement and Concrete Research On the future of Chinese cement industry,” Cem. Concr. Res., vol. 78, pp. 2–13, 2015. [2] L. Alarcon-ruiz, G. Platret, E. Massieu, and A. Ehrlacher, “The use of thermal analysis in assessing the effect of temperature on a cement paste,” vol. 35, pp. 609–613, 2005. [3] S. Miyazawa, T. Yokomuro, E. Sakai, A. Yatagai, and N. Nito, “Properties of concrete using high C 3 S cement with ground granulated blast-furnace slag,” Constr. Build. Mater., vol. 61, pp. 90–96, 2014. [4] Y. B. Zong, D. Q. Cang, Y. P. Zhen, Y. Li, and H. Bai, “Component modification of steel slag in air quenching process to improve grindability,” Trans. Nonferrous Met. Soc. China (English Ed., vol. 19, no. SUPPL. 3, pp. s834–s839, 2009. [5] W. Li, Z. Liu, Z. Wang, Y. Xu, and J. Wang, “Experimental and theoretical analysis of effects of N2, O2 and Ar in excess air on combustion and NOx emissions of a turbocharged NG engine,” Energy Convers. Manag., vol. 97, pp. 253–264, 2015. [6] Kementerian Lingkungan Hidup. (2014). Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Jakarta. Indonesia : Kementerian Lingkungan Hidup. [7] K. Kaewmanee, P. Krammart, T. Sumranwanich, and P. Choktaweekarn, “Effect of free lime content on properties of cement – fly ash mixtures,” Constr. Build. Mater., vol. 38, pp. 829–836, 2013.




DOI: https://doi.org/10.22219/sentra.v0i2.1812

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Seketariat

Fakultas Teknik

Universitas Muhammadiyah Malang Kampus III

Jl. Raya Tlogomas 246 Malang, 65144