Analisis transitivitas pidato visi dan misi calon presiden tahun 2019

Reza Ramanda

Abstract


Terlepas dari hasilnya, pemilihan umum adalah event nasional yang hanya terjadi lima tahun sekali. Tentu banyak faktor yang mempengaruhi hasil akhirnya, tapi faktor bahasa merupakan hal yang sangat menarik untuk dianalisa. Debat calon presiden dan wakil presiden adalah tempat dimana para calon melakukan appeal atau memikat masyarakat. Karena waktu pelaksanaannya yang hanya terjadi lima tahun sekali, rasanya meneliti event ini adalah hal yang sangat dimaklumi oleh para peneliti. Oleh karena itu, peneliti menganalisis fungsi sosial bahasa yang digunakan oleh para calon presiden pada debat capres dan cawapres 2019. Pada penelitian kualitatif ini, peneliti menggunakan pendekatan linguistik sistemik fungsional dan analisis konten (content analysis) dilakukan. Apa yang dianalisis adalah pola kemunculan metafungsi ideasional, transitivitas pada pidato penyampaian visi dan misi calon presiden Joko Widodo dan calon presiden Prabowo Subianto di debat pertama, kedua, keempat, dan kelima. Analisis transitivitas dipilih karena dapat mendeskripsikan realita atau eksperensial dimana konteks pidato menyangkut perwujudan visi dan misi masing-masing calon presiden. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua calon presiden menggunakan strategi yang berbeda dalam penyampaian visi dan misi. Calon presiden Joko Widodo menggunakan pendekatan realistis, dimana pidato beliau condong menyebutkan rencana atau misi dan elaborasinya dengan fakta di lapangan. Sedangkan calon presiden Prabowo Subianto menggunakan strategi yang dimana penyampaian visi dan misinya lebih merata dibandingkan lawannya yang lebih condong pada misinya.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.