PERTENTANGAN PERKAWINAN ADAT SATU GARIS MATRILINEAL DALAM CERPEN ORANG-ORANG LARENJANG KARYA DAMHURI MUHAMMAD

Ema Puspa Dwita Novitasari

Abstract


Penelitian ini membahas tentang pertentangan perkawinan adat satu garis matrilineal dalam adat Minangkabau yang terdapat dalam cerpen Orang-orang Larenjang karya Damhuri Muhammad. Alasan penelitian ini karena perkawinan adat Minangkabau sangat berbeda dengan perkawinan suku-suku lainya. Suku Minangkabau membagi perkawinan menjadi dua yaitu perkawinan agama dan perkawinan adat. Dalam perkawinan adat Minangkabau ada yang disebut dengan perkawinan pantangan dan perkawinan sumbang. Tujuan dari penelitian ingin mengetahui dampak apa yang akan diperoleh oleh kedua mempelai apabila melanggar pertentangan perkawinan adat satu garis matrienal dalam cerpen Orang-orang Larenjang karya Damhuri Muhammad. Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif. Pendekatan yang digunakan yaitu antropologi. Dalam penelitian ini juga menggunakan pendekatan teori Hegemoni Gramsci. Hasil penelitian dalam cerpen tersebut Julfahri dan Nurhusni melangsungkan perkawinan yang melanggar aturan adat. Perkawinan itu dinamakan “kawin sesuku” karena Julfahri dan Nurhusni statusnya masih satu rumpun atau satu family. Suku Minangkabau menggunakan sistem kekerabata matrilineal yaitu garis keturunan dari ibu. Akibatnya Julfahri dan Nurhusni harus menerima konsekuensinya yaitu diusir dari Tanah Larenjang, serta sanksi berupa cibiran dari masyarakat karena telah melanggar adat. Suku Larenjang juga mendapat sanksi yaitu dikucilkan dari pergaulan antar suku dan membayar denda.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.