KETERAMPILAN BERBICARA PENYANDANG TUNARUNGU PADA TINGKAT SEKOLAH DASAR LUAR BIASA

Dhea Ainie Sagatha Aviana

Abstract


Anak tunarungu adalah penyandang disabilitas yang salah satunya mengalami ganguan pada sistem pendengaran sehingga menyebabkan terhambatnya kemampuan berbicara dan komunikasi. Tunarungu adalah kondisi seseorang mempunyai kelainan yang menyatakan suatu kondisi bahwa organ pendengarannya tidak berfungsi secara baik. Secara dalam dunia pendidikan, pengaruh dari kelainan ini membutuhkan adanya layanan pendidikan dan bimbingan secara khusus. Bahasa memiliki fungsi sebagai wahana untuk melakukan kontak komunikasi, mengutarakan perasaan, kebutuhan, keinginan, pemberi informasi, serta memperoleh pengetahuan. Pembentukan organ artikulasi sebagai dasar dan syarat pembentukan komunikasi secara lisan atau oral ini sudah sulit dibentuk. Pembentukan artikulasi tersebut adalah memonyongkan bibir, manjulurkan lidah, menyapu bibir, menggerakkan lidah berputar, membuka rahang, menutup rahang, menggunakan ujung lidah untuk menggelembungkan pipi bagian dalam, menggulung lidah. Keterampilan berbicara yang dilakukan pada anak tunarungu juga dapat ditekankan pada terapi wicara. Lima bentuk penekanan pada terapi wicara yaitu (1) penekanan faktor lisan, (2) penekanan faktor tata kalimat (sintaksis), (3) penekanan faktor pemaknaan kata atau kalimat (semantik), (4) penekanan faktor pragmatik , (5) penekanan faktor berkomunikasi. Berbicara adalah kecakapan membunyikan artikulasi atau kata untuk mengungkapkan, menjelaskan, memberikan pikiran dengan gagasan dan perasaan. Perkembangan era ini dapat dimafaatkan bagi penyandang disabilitas salah satunya tunarungu untuk mendapatkan layanan yang lebih praktis, terutama dalam mengasah keterampilan berbicara.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.