KEARIFAN LOKAL FESTIVAL SEWU GANDRUNG BANYUWANGI SEBAGAI PENUNJANG LITERASI BUDAYA

Robby Cahyadi

Abstract


Sebagai bentuk perilaku masyarakat, kearifan lokal bukanlah hal yang tetap stagnan atau tidak berubah, akan tetapi berubah sejalan dengan waktu tergantung dari pola budaya yang ada di masyarakat itu sendiri. Festival Sewu Gandrung merupakan festival rutin yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali. Festival ini sebagai ucapan rasa syukur setelah panen kepada Dewi Sri atau Dewi padi atas kesejahteraan masyarakat Banyuwangi. Era industri 4.0 atau generasi keempat  memang menuntut perkembangan lebih canggih dan lincah dalam melakukan segala aktivitas kinerja yang baik. Akan tetapi tidak lupa bahwa literasi juga tetap dapat dikembangkan melalui kearifan lokal yang ada. Ada beragam strategi yang dapat ditempuh dalam perkembangan budaya kearifan lokal Festival Sewu Gandrung di kota Banyuwangi sebagai penunjang literasi budaya. Strategi yang dapat dilakukan  pada hal ini yaitu: (1) Pengetahuan masyarakat terhadap identitas ikon kota Banyuwangi; (2) Perkembangan literasi teknologi dan literasi informasi mengenai Festival Sewu Gandrung; (3) Pembukaan taman Gandrung Terakota sebagai tempat wisata ilmu pengetahuan ikon Gandrung. Pada ketiga strategi ini diharapkan dapat membantu dalam upaya perkembangan budaya kearifan lokal Festival Sewu Gandrung di kota Banyuwangi dan dapat terlaksana bukan hanya wacana semata.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.