BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA INDONESIA KEKUATAN KULTURAL BANGSA MEMASUKI LINGUA MILENIA

Arif Budi Wurianto

Abstract


Lingua Franca adalah bahasa sebagai sarana penghubung diantara bangsa yang berbeda. Dalam sejarah perkembangannya, pada abad ke-14 bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar di kawasan Asia Tenggara dan sebagai penghubung berbagai suku di pulau-pulau nusantara. Pada masa itu bahasa sebagai sarana sosial yang sangat penting yang selanjutnya menjadi alat pengembangan agama dan perdagangan. Bahasa Melayu telah menjadi penanda pemersatu nusantara. Sejarah kembali mencatat bahasa Melayu akhirnya menjadi tanda penghubung saluran politik di wilayah jajahan Belanda yang kemudian menjadi kesepakatan politik sebagai bahasa persatuan dengan nama Bahasa Indonesia pada 28 Oktober 1928. Selanjutnya lahirlah Bahasa Indonesia yang sekarang digunakan sebagai alat komunikasi, pemersatu suku bangsa, identitas nasional dan digunakan lebih dari 300 juta penutur. Bahasa Indonesia telah menjadi kekuatan kultural bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia berkembang menjadi bahasa yang penting, terutama dalam menghadapi perubahan sosial. Jumlah kosa kata yang terus bertambah seiring dengan pengembangan masyarakat. Bahasa Indonesia mampu mengakomodasi perubahan sosial, politik, ekonomi, dan budaya, baik sebagai kekuatan politik untuk masyarakat majemuk dan persoalan globalisasi. Kekuatan kultural Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia mengatasi semua komunitas lokal yang lebih dari 400 suku bangsa, masalah nasional sebagai nation state dan menghadapi gelombang besar global society menggambarkan sebuah perjuangan politik kebahasaan dalam memartabatkan bangsa dan mendudukkan kedudukan yang sejajar dengan damai dengan bangsa-bangsa dan bahasa-bahasa lain di dunia. Oleh sebab itu pada permulaan abad ke-21, bahasa Indonesia kembali menjadi Lingua Milenia dalam tugasnya sebagai bagian perdamaian dunia, kerjasama antarnegara sahabat, dan sarana studi kawasan untuk tujuan-tujuan yang lebih besar. Dalam memperkenalkan bahasa Indonesia untuk sebuah kawasan yang lebih luas, seperti Asia Tenggara, perlu sebuah pendekatan baru dalam pengajaran dan cara belajar bahasa Indonesia. Dalam pengajaran bahasa Indonesia di kawasan ASEAN perlu memadukan atau menggabungkan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan studi kawasan dan isu-isu budaya. Melalui studi kawasan, si belajar bahasa Indonesia tidak saja mampu berbahasa Indonesia dengan baik, tetapi ia mampu menerapkan untuk lebih memahami Indonesia secara holistic, baik dalam sejarah, budaya, ekonomi, politik, dan sosial. Demikian juga untuk tujuan persahabatan politik antarkawasan seperti pemberlakuan MEA yang dimulai pada 2015. Sedangkan cara belajar bahasa Indonesiadan pembelajaran bahasa Indonesia secara bertahap tidak saja belajar tentang aturan bahasa atau berbagai kosa kata baru, namun paduannya dengan keterampilan kecakapan hidup khususnya dalam pergaulan ASEAN dan MEA yang terkait dengan Jurnalisme, Bisnis, Studi Pembangunan, dan Hubungan Internasional. Model belajar bahasa Indonesia secara “in-country study” perlu dikembangkan lewat kerjasama antar universitas, pertukaran ahli, riset bersama dan kerjasama kelembagaan. Bahasa mampu menyatukan pemahaman bersama dalam perdamaian dan kemajuan antarbangsa.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.