MODEL PEMBELAJARAN JURNALIS DALAM MENULIS PANTUN GUNA MEMBENTUK KARAKTER ANAK

Maulina Hendrik

Abstract


Pantun merupakan karya sastra lama yang hingga saat ini masih dilestarikan, sehingga pantun selalu dikenal di setiap daerah kepulauan negara Indonesia. Pantun memiliki beranekaragam jenis, di antaranya pantun nasehat, pantun humor, pantun berkasih sayang, pantun politik, dan sebagainya. Setiap jenis pantun tersebut memiliki makna yang dapat membentuk karakter pribadi seseorang khususnya siswa. Di satuan pendidikan baik pendidikan sekolah dasar hingga pendidikan menengah, karya sastra ini dijadikan salah satu materi pembelajaran. Meskipun pantun telah mendunia, namun tidak semua orang dapat berpantun dengan baik khususnya di tingkat pelajar. Dalam pembelajaran, pantun dianggap sulit karena harus mengikuti syarat penulisan yang tepat. Selain itu, setiap pemantun harus memiliki perbendaharaan kata yang banyak agar dapat mengolaborasikan kata-kata tersebut hingga menjadi pantun yang indah dan bermakna. Agar pantun dapat dengan mudah dikonsumsi oleh para pelajar, maka diperlukan sebuah model pembelajaran.Model pembelajaran jurnalis merupakan alternatif model yang dapat digunakan pendidik dalam membantu peserta didik menulis pantun. Model pembelajaran tersebut diadobsi dari jurnalis (wartawan) surat kabar melalui tiga tahapan kerja, yaitu: amati, tulis, dan kembangkan. Ketiga tahapan tersebut digunakan dalam proses menulis pantun, mulai dari mengamati lingkungan sekitar, menulis pokok-pokok penting, dan kembangkan pokok-pokok tersebut menjadi kalimat yang berangkai. Dengan demikian, fokus kajian ini diarahkan pada penulisan pantun dengan menggunakan model pembelajaran jurnalis yang akan menghasilkan karakter baik yang tergambar dari hasil penulisan maupun kepribadian si penulis. Hasil kajian ini memberikan sejumlah rekomendasi kepada pendidik baik di satuan pendidikan sekolah dasar hingga pendidikan menengah dan pihak-pihak terkait agar dapat melaksanakan pendidikan karakter dengan memanfaatkan model pembelajaran ini dalam pembelajaran berpantun maupun pembelajaran sastra lainnya.

Full Text:

PDF

References


Aunillah, N.I. 2011. Panduan menerapkan pendidikan karakter di sekolah. Yogyakarta: Laksana.

Effendy, T. 2004. Tunjuk ajar dalam pantun Melayu. Yogyakarta: Adi Cita.

Hajar, E.A. 2011. Cerdas cermat pantun. Pekanbaru: Unri Press.

Ikram, A. 1997. Filologi Nusantara. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.

Kartini. 2011. “Peningkatan kemampuan menulis puisi bebas dengan teknik menulis akrostik pada siswa kelas VA MI Semplak Pilar, Kabupaten Bogor” dalam Jurnal Pendidikan Dompet Dhuafa, 1 (1), hlm. 1—11.

Mafrukhi, dkk. 2007. Kompeten berbahasa Indonesia, untuk SMA kelas XII. Jakarta: Erlangga.

Mansyur. 2014. Implementasi pendidikan karakter di satuan pendidikan. Jurnal Artikel LPMP Sulsel, 1—13.

Resmini, N. 2006. Pembinaan dan pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: UPI PRESS.

Sumandiria. 2006. Jurnalistik Indonesia Menulis Berita dan Feature. Cetakan Kedua. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Sumantri, E. 2010. Pendidikan Karakter sebagai Pendidikan Nilai: Tinjauan Filosofis, Agama, dan Budaya. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Karakter Membangun Bangsa Beradab. Prodi Pendidikan Umum, SPs UPI, Bandung, 28 Juli 2010.

Tebbel, J. 2003. Karier jurnalistik. Semarang.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.