MEMBANGUN NILAI-NILAI MULTIKULTURALISME MELALUI SASTRA RELIGIUS

Latifah Latifah

Abstract


Permasalahan intoleransi beragama yang semakin jelas dan brutal di kancah perpolitikan berbangsa dan bernegara semenjak era demokrasi reformasi menjadi tantangan utama yang mendesak untuk segera dicarikan solusi. Hal ini, sebagaimana penelitian SETARA (2016) dan Ma’arif Institute (2015) misalnya, dimungkinkan karena pendidikan agama di institusi pendidikan di masa Orba cenderung eksklusif dan sepertinya negara tidak menghiraukan realita ini atas nama demokrasi dan HAM. Multikulturalisme adalah suatu keniscayaan yang terdiri dari berbagai eksklusivitas budaya dan agama, namun bila tidak ada jembatan yang menghubungkan antar-agama dan budaya yang ada ini, intoleransi adalah benih yang akan tumbuh. Jembatan toleransi yang seharusnya dibangun ini salah satunya adalah dengan mengambil kekayaan teks sastra religius yang eksklusif tersebut sebagai media dialog yang membangun toleransi. Artikel ini mengajukan alternatif media pembelajaran multikulturalisme dengan mengembangkan inter-religus literasi melalui sastra religius.

Full Text:

PDF

References


---------------------------- (2015). “Misteri Penunggu Pohon Tua”. Misteri Penunggu Pohon Tua::Seri Kumpulan Cerpen Buddhis. Yogyakarta: Vidyasena Production.

--------------------------. (2000). Pendidikan Akhlak dan Budi Pekerti: Membangun Kembali Anak Bangsa. Makalah dalam Konvensi Nasional Pendidikan.

____________ (2015). Sihir. Magelang: Peace Within.

Akbar, Wisnugroho. “BNPT: Kelompok Radikal Bergerak di Sejumlah Kampus Ternama”. http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160903110259-20-155860/bnpt-kelompok-radikal-bergerak-di-sejumlah-kampus-ternama/. Diakses pada 23 April 2017.

Atthapiyo, Don. (2014). Kegelisahan Sang Domba. Magelang: Peace Within.

Azra, Azyumardi. (2006). Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Hansen, Sasanasena. (2015).“Sabaidee Laos”. Dalam Misteri Penunggu Pohon Tua:Seri Kumpulan Cerpen Buddhis. Yogyakarta: Vidyasena Production.

Hardianto, Paulus Dwi. “Pentingnya Pendidikan Interreligiusitas di Sekolah Dasar”. Jurnal Teologi USD Vol. 03, No. 01, Mei 2014.

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160218_indonesia_radikalisme_anak_muda

Ismah, Nor. “Young Women Writers From The Pesantren Tradition

Self-Initiative, Learning Environment,

And The Education System”. Journal of Indonesian Islam Volume 06, Number 02, December 2012.

Jan, Hendry Filcozwei. (2015) “Cinta Tidak Buta”. Dalam Misteri Penunggu Pohon Tua:Seri Kumpulan Cerpen Buddhis. Yogyakarta: Vidyasena Production.

Lestari, Sri. “Anak-anak muda Indonesia makin radikal?”. http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160218_indonesia_radikalisme_anak_muda. Diakses pada 23 April 2017.

Nurudin. “Basis Nilai-Nilai Perdamaian: Sebuah Antitesis Radikalisme Agama di Kalangan Mahasiswa”. Harmoni September-Desember 2013.

Parekh, Bikhu. “A Commitment to Cultural Pluralism”. Makalah dalam Intergovernmental Conference On Cultural Policies For Development, Stockholm, Sweden, 30 Maret - 2 April 1998. unesdoc.unesco.org/images/0011/001107/110756Eo.pdf. Diakses pada 22 April 2017.

SETARA Institut. “Kondisi Kebebasan Beragama di Indonesia 2016”. http://setara-institute.org/kondisi-kebebasan-beragamaberkeyakinan-dan-minoritas-keagamaan-di-indonesia-2016/. Diakses pada 23 April 2016.

Sunarso, S. (2009). “Dinamika Pendidikan Kewarganegaraan di Indonesia dari Rezim ke Rezim”. Humanika, 9(1).

Syafei, Abdillah. (2002) “Tarian Sang Hudoq”. Dalam Tarian Sang Hudoq:Kumpulan Cerpen Pilihan. Bandung: Syaamil Cipta Media.

Yusuf, H. O. (2013). Promoting Peaceful Co-Existence and Religious Tolerance through Supplementary Readers and Reading Comprehension Passages in Basic Education Curriculum. International Journal of Humanities and Social Science , 224-232.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.