KIDUNG SEWA DHARMA NYANYIAN KEGELISAHAN BATIN SANG KAWISWARA

Ida Bagus Jelantik Sutanegara Pidada

Abstract


Kesusastraan kidung merupakan salah satu genre karya sastra tradisional Indonesia yang cukup populer pada masanya, bahkan sampai sekarang ini masih dinyanyikan di Bali saat upacara tertentu. Salah satu karya sastra kidung yang dikenal di Bali disebut kidung sewa dharma. Isinya, mengenai pengarang yang mempunyai keinginan besar melakukan aktivitas mengarang untuk menyuarakan hakikat kebenaran. Dalam usahanya mencari insprirasi, pengarang menghadapi kenyataan betapa sulitnya mengarang. Karena kebingungannya, lalu mengembara (murang-murang lampah) berbekal karas (batu tulis) dan grip (anak batu tulis) melewati hutan yang lebat, melintasi tebing yang terjal, menyusuri sungai yang deras alirannya menuju laut, bersaudara dengan pohon, dan berteman dengan binatang di hutan. Di tengah hutan sekitar kaki gunung, ditemukanlah sebuah asrama sederhana. Di asrama itu, pengarang berjumpa dengan seorang guru yang bersedia menjadi gurunya. Sejak itu, pintu kebajikan dan kebenaran (dharma) terbuka lebar bagi dirinya untuk dieksplorasi. Berdasarkan alur cerita yang demikian itu, tampaklah kidung sewa dharma menempatkan diri pengarang (seniman) sendiri sebagai elemen terpenting. Karya sastra yang mengandung curahan hati, ucapan, proyeksi pikiran, dan perasaan pengarang, tepatnya dianalisis melalui pendekatan ekspresif. Di mana pusat perhatian dicurahkan kepada pengarang sendiri sebagai objek yang melahirkan produksi persepsi-persepsi, pikiran-pikiran, dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. Melalui teks kekata yang dituangkan pengarang, analisis ini diupayakan untuk mengungkap ekspresi pengarang tentang jati dirinya dan tanggapannya terhadap lingkungan. Bagaimanakah perasaan, persepsi, dan pikirannya seperti tertuang di dalam teks yang dibangunnya.

Full Text:

PDF

References


Abrams, M.H. 1979. The Mirror and the Lamp: Romantic Theory and The Crititical Tradition. London/New York: Oxford University Press.

Agastia, IBG. 1994. Kesusastraan Hindu Indonesia (Sebuah Pengantar). Denpasar: Yayasan Dharma Sastra.

Bandem, 1983. Ensiklopedia Gambelan Bali. Denpasar: Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar.

Baroroh Baried (ed), Siti, 1983. Pengantar Teori Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Robson, SO. 1971. Waŋbaŋ Wideya: A Javanese Panji Romance. The Hague: Martinus Nijhoff.

Soekatno, Revo Arka Giri. 2009. Kidung Tantri Kediri: Kajian Filologis Sebuah Naskah Jawa Pertengahan. Leiden: Universiteit Leiden.

Suarka, I Nyoman. 2007. Kidung Tantri Pisâcaraóa. Denpasar: Pustaka Larasan.

Vickers, A.H. 2005. Journeys of Disire: A Study of The Balinese Text Malat. Leiden KITLV Press.

Zoetmulder, P.J. 1983. Kalangwan: Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang (Diterjemahkan oleh Dick Hartoko). Jakarta: Djambatan

Zoetmulder, P.J. 2004. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.