SINERGI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN LITERASI SASTRA DENGAN GERAKAN SOSIAL

Azwar Azwar

Abstract


Kajian ini menggali secara mendalam tentang sinergi kebijakan pengembangan literasi sastra di sekolah dan masyarakat dengan gerakan sosial. Di Indonesia pemerintah menyadari bahwa literasi sastra merupakan hal yang penting. Setidaknya hal ini tercermin dalam empat Nawacita yang dicanangkan pemerintah dan diikuti beberapa kebijakan seperti Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Walaupun sudah ada kebijakan pemerintah, namun budaya menulis dan membaca belum membumi di Indonesia. Artinya kebijakan tersebut belum memiliki dampak positif yang masif di tengah-tengah masyarakat. Merujuk pada pemikiran Teori Kritis Mazhab Frankfurt yang dicetuskan Max Horkheimer, Theodor W Adorno, dan Habermas maka kebijakan pemerintah tentang literasi sastra itu perlu bersinergi dengan gerakan sosial yang dibangun masyarakat. Teori Kritis adalah salah satu ikhtiar dalam pemecahan persoalan-persoalan sosial dan budaya. Melalui Teori Kritis persoalan dapat dilihat tidak hanya kulit luarnya saja, akan tetapi melihat pada akar persoalan yang ada. Teori Kritis mementingkan munculnya kesadaran pada setiap individu. Teori Kritis juga mensyaratkan adanya aksi atau tindakan dalam memberikan pencerahan pada masyarakat, demi memecahkan persoalan. Secara sederhana setidaknya hal tersebut dapat dilihat pada contoh kasus yang menjadi pembahasan dalam kajian ini yaitu Forum Lingkar Pena (FLP) yang menjadi gerakan sosial masif sejak tahun 1997 hingga sekarang. FLP menjadi gerakan sosial yang berhasil mewarnai ranah kesusastraan Indonesia dengan segala ideologi pendukungnya. Kajian ini menggunakan metode kualitatif, dimana penulis menggali secara mendalam persoalan-persoalan literasi sastra melalui interprestasi data kepustakaan, observasi dan wawancara mendalam dengan narasumber. Melalui hasil kajian ini, secara sederhana dapat dilihat bahwa gerakan pembudayaan membaca dan menulis sudah berhasil dilakukan oleh FLP selama lebih dari 20 tahun keberadaannya di Indonesia. Apa yang dilakukan FLP akan lebih berdampak positif terhadap masyarakat jika disinergikan dengan kebijakan pemerintah terhadap gerakan literasi di sekolah dan masyarakat. Melalui kajian ini dapat dilihat bahwa kebijakan pemerintah akan efektif jika bersinergi dengan gerakan sosial masyarakat.

Full Text:

PDF

References


Azwar. 2016. Membaca Sastra Membaca Dunia. Penerbit Basa Basi Divapress. Yogykarta.

Denzin, Norman K dan Yvonna S Lincoln. 2010. Handbook of Qualitatif Research Pustaka Pelajar, Jogjakarta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, Balai Pustaka, Jakarta.

Erneste, Pamusuk (ed). 1984. Proses Kreatif Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang. Kompas Gramedia. Jakarta.

Ismail, Taufik. “Menyembuhkan Bangsa yang Rabun Membaca”. Suara Muhammadiyah, No. 22/Th. Ke-87/16-30 November 2002.

Jay, Martin. 2005. Sejarah Mazhab Frankfurt Imajinasi dalam Perkembangan Teori Kritis, Kreasi wacana, Yogyakarta.

Littlejohn, Stephen W dan Karean A Foss (2010). Theories of Human Communication (Seventh Edition): Wadsworth.

McQuail, Denis. 2011. Teori Komunikasi Massa McQuail Edisi 6. Penerbit Salemba Humanika, Jakarta.

Tiana Rosa, Helvy. (2005). “Tesis: Majalah Remaja Annida; Konsep, Strategi dan Pola Representasi dalam Delapan Cerpennya Tahun1990-an,” Universitas Indonesia, Depok, 2005.

Tim Penyusun Desain Induk GLS Kemendikbud. 2016. Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah. Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud.

Tim Penyusun Panduan GLS Kemendikbud. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Atas. Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.