Catatan Hati Seorang Ibu Wali Santri

Ahmad Fatoni

Abstract


“Dia masih kelihatan masih kecil, imut, dan lucu. Sebenarnya dia masih sangat bergantung dalam banyak hal pada orang tuanya terutama aku, ibunya. Dia belum bisa mencuci sendiri, merapikan kamar sendiri, mengatur hidupnya sendiri, dan melakukan segala aktivitasnya sendiri. Jangankan mencuci baju, makan pun kadang-kadang masih ingin disuapi.” (hlm.34).”Ya siapa yang gak bisa. Punya anak, sudah besar diungsikan ke pesantren. Enak gak ngurusi!” Kalimat itu masih terngiang di telinga Sri Subekti, penulis buku ini. Kenyataannya, tidak sedikit orang tua yang tidak mampu atau tidak mau mengirimkan putra-putrinya ke pesantren dengan alasan sederhana: tidak tega memisahkan anak dari dekapan orang tuanya.Itulah pergulatan batin yang justru semakin memerteguh keyakinan penulis saat harus melepas anak keduanya, Tajudddin, di belantara pesantren. Anak yang masih tergolong ingusan itu harus mendekam di “penjara suci” Pondok Modern Gontor yang dikenal dengan pendidikan kedisplinan dan kemandiriannya. Di pesantren ini tidak ada istilah anak mama, anak manja, atau anak cengeng. Semua santri diperlakukan setara, anak siapa pun dia.  Di tengah maraknya peredaran buku-buku tentang pendidikan karakter dengan beragam retorika, hadirnya buku Mendulang Mata Air dengan Air Mata merupakan pilihan yang tepat. Ini adalah buku yang dapat mengaduk-aduk perasaan orang tua. Tidak bertabur teori, tidak mengajarkan petuah, namun menawarkan hikmah. Di dalamnya seorang ibu berkisah tentang hubungan batin seorang ibu yang memercayakan pendidikan bagi ketiga putra-putrinya di pesantren.Kisah dibuka dengan tuturan penulis yang juga seorang editor dan trainer Sagusabu (satu guru satu buku) nasional ini, berupa keinginan ketiga anaknya yang nyantri ke Gontor atas kemauan sendiri. Menyimak buku ini, saya terseret kenangan sekian tahun lalu saat nyantri di pondok yang sama. Kini sebagai orang orang tua, saya juga bersiap-siap mengirimkan putra-putri saya ke pesantren. Tak pelak, kisah yang begitu mengharu biru dalam buku ini sangat menarik untuk direnungkan.Rupa-rupa cerita tentang penulis sebagai seorang ibu yang butuh ketabahan ekstra tatkala mendengar sang putra tergeletak lemas didera sakit di balai kesehatan pondok, seorang ibu yang harus naik travel malam-malam demi menjenguk kondisi sang putra, kepanikan orang tua ketika mendadak si buah hati enggan balik ke pondok selepas liburan, perasaan haru saat melihat ketiga putra-putrinya begitu tegar dan mandiri, serta aneka cerita kerinduan seorang ibu kepada anaknya.Sebagai seorang ibu yang berkarir menjadi guru di sebuah sekolah menengah atas, Sri Subekti, terkadang dihantui perasaan bersalah tatkala tidak bisa mendampingi salah satu putra atau putrinya yang membutuhkan kehadirannya. Pun turut merasa berdosa karena pernah memertanyakan bekal kue putrinya yang cepat habis dibagikan ke teman-temannya. Sungguh sebuah kisah yang menyodok kesadaran tentang pentingnya akhlak berbagi.Salah satu ungkapan favorit termaktub pada sampul belakang buku ini, “anak, ibarat mata air, potensi mereka terpendam jauh di dalam tanah. Potensi yang ada membutuhkan penyaluran untuk mengetahui ke arah mana air terpancar. Air yang menetes, butuh tempat tinggi agar dapat mengalir ke tempat yang tepat supaya bermanfaat bagi umat. Demi mengairi gersangnya bumi karena keringnya akhlak kehidupan.”Dalam pandangan penulis, pendidikan yang tepat adalah kunci untuk mendulang potensi mata air yang tersimpan. Doa dan keikhlasan sebagai aliran yang akan menyalurkannya hingga muara kehidupan. Air mata adalah pertanda setitik peluh yang keluar, tak aka ada artinya saat terbasuh oleh aliran mata air yang menyegarkan. Air mata bahagia niscaya menjadi saksi segala keberkahan di ujung jalan kehidupan ketiga putra-putrinya.Kisah tentang “keperkasaan” Sri Subekti saat harus berpisah dengan ketiga putra-putrinya karena lebih memilih pendidikan total di sebuah pesantren, dapat menguatkan tekad para orang tua dalam memilihkan pendidikan anak. Mendidik itu bukan membuat sumber air, tetapi Allah telah memberikan mata air itu. Orang tualah yang memjadikan air itu mengalir bersama kerja keras dan doa di setiap waktu.Kisah yang sarat pengalaman inspiratif, ini layak disimak sebagai bahan renungan, tidak hanya bagi orang tua wali santri, namun sangat baik juga bagi para calon wali santri. Pemaparannya dilengkapi dengan beberapa petikan ayat suci Al-Quran dan hadits yang relevan, serta kutipan-kutipan yang penuh motivasi. Dengan bahasa yang mengalir dan terangkai indah, membuat buku ini enak dibaca. Pilihan katanya terjaga, susunan kalimatnya tertata, sehingga jauh dari kesan membosankan.(*)

Keywords


Catatan Hati Seorang Ibu Wali Santri

Full Text:

Pdf

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


License URL: https://malang-post.com/berita/detail/catatan-hati-seorang-ibu-wali-santri