Konstelasi Pilkada Kabupaten Malang

Sholahuddin Al Fatih

Abstract


Tahun 2020 masih identik dengan tahun politik. Betapa tidak, tahun ini digelar 270 Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang terdiri dari 9 provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota. Dari jumlah tersebut, sebanyak 19 Kabupaten/Kota di Jawa Timur akan kebagian menggelar hajat 5 tahunan itu, salah satunya Kabupaten Malang.Sebagai warga Tegalweru, yang notabene masuk yurisdiksi Kabupaten Malang, saya tentunya ikut mengamati perkembangan Pilkada di Kabupaten Malang. Tahapan Pilkada dimulai dari penjaringan calon, yang berdasarkan pengamatan saya, setidaknya bakal ada tiga paslon yang bakal bertarung dalam Pilkada Kabupaten Malang. Tiga Paslon tersebut, dua dintaranya maju diusung oleh Partai Politik, sementara satu paslon melalui jalur independen.Meskipun baru digelar tahun ini, namun keriuhan Pilkada Kabupaten Malang sudah bisa dirasakan sejak perhelatan Pemilu tahun lalu. Betapa tidak, banyak spanduk dan flyer bertebaran yang sengaja atau tidak dipasang oleh pendukung paslon tertentu. Sebut saja spanduk dengan tulisan Malang Jejeg, yang bertebaran di sepanjang jalan dan beberapa rumah warga. Tak cukup berhenti di situ, para kandidat juga berusaha mencari dukungan dengan beragam ide, gagasan maupun tebar psywar dalam beragam kesempatan.Hingga akhirnya konstelasi politik berujung pada hengkangnya incumbent HM Sanusi, yang awalnya digadang-gadang mendapat rekomendasi dari PKB, namun justru mendapat rekomendasi dari PDIP. Sebelumnya, santer terdengar kabar bahwa akan terjadi duet bangjo atau abang ijo, sebutan untuk koalisi yang biasa dibentuk antara PDIP dan PKB. HM Sanusi awalnya akan diduetkan dengan Sri Untari, yang kini tercatat sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Timur. Namun, pada akhirnya, prediksi dan berita itu tak terwujud. Koalisi PDIP-PKB gagal terwujud.Hal yang unik di sini adalah sikap yang ditunjukkan oleh HM Sanusi. Begitu tak kunjung mendapatkan rekomendasi dari PKB, beliau berani mengambil risiko dari ormas dan partai yang telah membesarkannya. Tentu, kita tak bisa menutup mata, bahwa beliau adalah kader nahdliyin sekaligus fungsionaris PKB. Inilah politik. Segalanya bisa saja terjadi. Kini, HM Sanusi berpasangan dengan Didik Gatot Subroto, kader PDIP yang kini menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Malang. Keduanya kini lebih sering menghiasi pemberitaan media, baik surat kabar lokal maupun nasional.Lalu pertanyaannya, bagaimana nasib PKB? Dengan 12 kursi yang dimiliki di parlemen, PKB sejatinya tak akan kesulitan mengajukan calon. Sebab, syarat minimal 10 kursi parlemen untuk maju dalam Pilkada sudah terpenuhi. Maka, dalam posisi ini, PKB-lah yang memegang kendali peta koalisi di Pilkada Kabupaten Malang. Dan sosok sentral yang diprediksi bakal bermain hebat dalam kontestasi kali ini adalah Gus Ali. Ali Ahmad lengkapnya. Beliau adalah Ketua DPC PKB Kabupaten Malang sekaligus Anggota DPR RI. Beliau bertarung dalam Pileg 2019 lalu dan berhasil melenggang ke senayan. Ini membuktikan, bahwa beliau memiliki mesin dan pendukung grassroot yang cukup loyal.Gus Ali, bisa saja maju. Atau memilih kader lain di internal PKB. Banyak nama yang bisa direkomendasikan oleh PKB. Stok kader mereka melimpah. Kantong suara mereka banyak. Yang justru menarik adalah, siapakah Bacawabup yang bakal diusung. PKB, dalam beberapa kesempatan saat dikonfirmasi oleh media, menyebutkan telah menjalin komunikasi intens dengan beberapa partai. Tentu hal ini sah-sah saja dilakukan walaupun kursi PKB di parlemen telah lebih dari cukup untuk mengajukan calon sendirian. Namun, seperti kata Dilan, sendiri itu berat, kamu (politik) tak akan kuat.Di antara pilihan-pilihan itu, yang cukup menarik adalah berkoalisi dengan non parpol. Ada Muhammadiyah selaku ormas besar yang memiliki cukup banyak kantong suara. Aset SDMnya juga berlimpah. Jika koalisi PKB-Muhammadiyah terjadi, maka ini berarti juga koalisi NU-Muhammadiyah. Sebab para ulama dan sesepuh NU di Kabupaten Malang sudah berjanji akan all-out dalam mendukung pasangan yang diusung oleh PKB. Kita lihat saja kekuatan politiknya secara sederhana. Di Selatan, NU memiliki banyak lembaga pendidikan, mulai dari ponpes hingga perguruan tinggi, sebut saja Universitas Raden Rachmat (Unira). Di Utara, Muhammadiyah memiliki Universitas Muhammadiyah Malang.Kedua lembaga pendidikan tersebut dengan segala tenaga ahli di dalamnya, bisa saja mempengaruhi partisipasi politik masyarakat. Hal ini tentunya akan merubah peta dukungan dan elektabilitas paslon. Maka kombinasi NU-Muhammadiyah, bisa menjadi lawan yang sepadan buat duet HM Sanusi-Didik GS.Jika dirasa kurang, PKB bisa menjajaki koalisi dengan PKS dan Nasdem. PKS beserta kader-kadernya, dalam beragam kontestasi, telah teruji militan. Lihat saja yang terjadi di Pilkada Jabar. Mereka berkuasa selama 10 tahun, walaupun kadernya tidak banyak. Dalam Pilkada Jabar terakhir, duet Sudrajat-Syaikhu (Asyik) yang awalnya diprediksi hanya mampu menempati posisi buncit, faktanya bisa menyodok ke posisi kedua. Militansi kader PKS juga teruji dalam Pilkada DKI Jakarta. Tak mengusulkan kader internal, duet Anies-Sandi hasil kolaborasi dengan Gerindra, berhasil mengalahkan dominasi Basuki-Djarot alias Badja, dimana Ahok saat itu adalah incumbent.Di Kota Malang dan Kota Surabaya, PKS berhasil mendudukkan kader internal mereka menjadi Wakil Ketua DPRD di masing-masing daerah. Maka, jika PKB berhasil melobi PKS untuk merapat, mereka akan mendapatkan efek militansi ini dari para kader-kadernya. Parpol kedua selain PKS adalah Nasdem. Meskipun sebelumnya terjerat kasus korupsi, namun ada sosok milenial Nasdem di Kabupaten Malang yang bisa saja memberikan coattail effect kepada paslon yang diusung PKB. Dialah Kresna Dewanata Prosakh. Anak kandung dari Rendra Kresna yang berhasil melenggang ke senayan selama 2 periode. Milenial asli Malang ini bisa menjadi vote getter di kalangan anak muda. Keberhasilannya kembali melenggang ke senayan di tengah kasus yang menjerat orang tuanya membuktikan bahwa dia memiliki dukungan grassroot yang cukup bisa diandalkan. Kini, pilihan itu ada di tangan PKB, mau bergandengan dengan siapa untuk menjegal koalisi banteng

Keywords


Konstelasi Pilkada Kabupaten Malang

Full Text:

Pdf

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


License URL: https://www.malangpostonline.com/Page/Opini/2020-03/33045/konstelasi-pilkada-kabupaten-malang