Rebutan Alumni

Nurudin .

Abstract


Tak bisa dipungkiri, ramainya deklarasi alumni perguran tinggi dan sekolah menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) membuktikan bahwa berbagai cara akan dilakukan untuk memenangkan kompetisi. Kekuasaan politik memang begitu. Tindakan tersebut tentu tidak salah, tetapi menunjukkan bahwa demokrasi kita masih menekankan pada kerumunan.Memang, ada banyak perubahan-perubahan yang memberikan ruang gerak masyarakat dalam partisipasi politik ke pemerintah. Pemerintah juga bisa dikontrol masyarakat secara lebih transparan. Riuhnya tuntutan pada hak-hak masyarakat juga semakin diakomodasi dalam kekuasaan politik menjadi indikasi geliat demokrasi. Namun demikian, demokrasi kita masih mengandalkan mobilisasi massa dalam meraih kekuasaan politik.Deklarasi alumni yang kita saksikan beberapa tahun terakhir ini menjadi indikasi kuat. Peristiwa aktual adalah deklarasi dukungan Capres-Cawapres menjelang Pemilu 2019. Setidaknya, sejak November 2018 sampai pertengahan Februari 2019, ada sekitar 10 kali deklarasi alumni kampus yang mendukung Jokowi-Ma’ruf maupun Prabowo-Sandiaga. Pro-kontra pun bermunculan, tetapi mengerucut pada kepentingan sepihak  masing-masing calonnya.  Setuju dan tidak setuju ada deklarasi alumni, tergantung dari sudut pandang masing-masing.Problematis Tulisan ini tidak mempermasalahkan apakah deklarasi itu penting atau tidak karena sudah terjadi. Tetapi bagaimana kegiatan yang lebih cerdas kaitannya dengan pendidikan masyarakat ini dilakukan ke depan. Bisa jadi, deklarasi dipandang bisa menciptakan gaung dan elektabilitas calon. Padahal deklarasi sering tidak ada hubungannya dengan perubahan pilihan seseorang. Jadi, hiruk-pikuk deklarasi tak ada kaitan dengan pilihan tetapi menguntungkan dari gelegar publikasi. Tidak ada yang salah dengan deklarasi karena menjelang Pilpres semua akan dilakukan oleh tim sukses untuk meraih kekuasaan politik. Namun ada catatan menarik yang perlu dikemukakan. Pertama, deklarasi alumni tidak begitu signifikan dalam memengaruhi suara pemilih. Mengapa? Karena para pemilih itu sudah mempunyai calon sebelum ada hiruk-pikuk deklarasi. Bahkan Debat Calon Presiden (Capres) bisa jadi hanya sekadar seremonial untuk menunjukkan bahwa memang ada “perhelatan” demokrasi. Tentu juga akan dianggap aneh  jika Debat Pilpres di era sekarang tak diadakan. Tak ada debat misalnya, bisa dianggap tidak mencerminkan dinamika demokrasi, meskipun dinamika itu terkesan hanya artifisial. Kedua, kaitkan kampus dengan kegiatan yang ilmiah. Deklarasi, meskipun dilakukan oleh alumni tentu akan membawa nama dan institusi kampus. Deklarasi bukan tidak penting, tetapi para alumni itu tentu perlu lebih bijak. Misalnya, bagaimana caranya para kandidat itu dibawa ke kampus untuk memaparkan program-program yang akan dijalankan jika suatu saat terpilih. Cara ini akan menghindari kecurigaan bahwa kampus terseret dalam kehidupan politik. Namun daripada gelegar deklarasi, mengundang kandidat akan membuat kampus semakin elegan dan mencerminkan diri sebagai “ruh” lembaga pendidikan. Kampus tentu harus dibedakan  dengan organisasi yang berkaitan dengan konser musik.Para alumni itu tentu mempunyai daya tawar ke kampus untuk membawa kandidat ke lembaga pendidikan tinggi dimana mereka pernah kuliah. Di kampus tentu kandidat akan diuji, bukan sekadar seremonial seperti Debat Capres. Kampus tentu tidak akan mau diatur sedemikian rupa sehingga terkesan hanya sebagai Event Organizer (EO). Argumentasi ilmiah  akan lebih berguna daripada sekadar kepentingan politik sesaat. Deklarasi dengan mengatasnamakan kampus sekadar menyeret kampus pada kepentingan sesaat pada kekuasaan politik.Ketiga, idependensi kampus diuji. Tidak bisa dipungkiri deklarasi alumni tentu berkaitan dengan lembaga pendidikan. Alumni sebenarnya bisa berperan dalam menyodorkan pemikiran-pemikiran kampusnya untuk diberikan kepada kandidat. Jadi, kampus diminta “menggodog” persoalan-persoalan bangsa ke depan, kemudian dalam pertemuan alumni ini disodorkan ke kandidat. Tentu kegiatan ini tidak mudah dilakukan karena memakan waktu lama, serius, butuh dana tidak sedikit dan alumni itu tidak partisan. Ini tidak mudah. Namun jika bisa dilakukan, alumni dan perguruan tingginya akan dicatat dengan tinta emas sebagai lembaga yang berperan penting dalam kemajuan bangsa di masa datang. Keempat, deklarasi tidak jauh berbeda dengan konser. Deklarasi selalu lekat dengan hiruk pikuk, dukungan, kesenangan, memakai seragam, yel-yel, dan semangat untuk membela. Konser musik tentu tidak jauh berbeda. Tentu saja, mereka yang terlibat dalam deklarasi akan enggan dikatakan dan disamakan dengan konser musik tersebut. Tetapi kegiatan yang dilakukan itu akan kemiripan. Ini memang berkaitan dengan rasa. Jika seseorang sudah merasa cocok, atau sengaja mencocok-cocokkan ia akan berbuat apa saja untuk yang didukungnya tersebut. Tak terkecuali dengan mengikuti konser musik.Demokrasi Kerumunan Sebagaimana penulis katakan di awal tulisan ini, deklarasi jelang Pilpres jelas ada kaitannya dengan kepentingan politik. Lepas dari itu, sebenarnya ada bangunan dasar untuk membangun bangsa ini di masa datang, yakni persoalan demokrasi. Semakin cerdas suatu masyarakat, maka dinamika demokratisasi juga akan semakin lebih baik. Demokrasi memang tidak mengharamkan deklarasi, unjuk rasa, kumpul-kumpul, temu alumni dan sebagainya. Semua itu tentu mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Namun demikian, kegiatan tersebut di atas masih menunjukkan bahwa demokratisasi kita memang masih berdasarkan mobilisasi atau sebut saja demokrasi kerumunan. Suka atau tidak suka, sepakat atau tidak sepakat kita berada dalam iklim demokratisasi ini. Demokrasi kita juga masih berada dalam tekanan ketakutan “aliran lain”. Misalnya, karena takut dengan ancaman “gerakan radikal”, maka berbagai cara dilakukan untuk menangkalnya. Cara-cara menangkal dengan kekerasan tentu hanya akan menciptakan spiral kekerasan. Dengan kata lain, akan saling berbantah dengan kekerasan juga. Deklarasi yang dilakukan pasangan kandidat akan membuat kandidat lain terpancing untuk ikut-ikutan melakukan deklarasi pula. Jadi, mobilisasi massa masih menjadi basis perjuangan demokrasi kita. Bukan tidak boleh, hanya sudah harus lebih maju. Namun di tengah kepentingan dua kubu yang kian keras dan ketakutan antar pihak sering membuat kita berpikir di luar nalar. Deklarasi memang punya publikasi luar biasa. Namun, itu hanya akan memengaruhi sekelompok kecil orang atau bahkan tak banyak memengaruhi karena pada dasarnya masyarakat sudah punya pilihan. Namun, kita tetap menghormati pilihan masing-masing pihak. Itu salah satu usaha.   Dalam politik semua usaha akan dilakukan untuk kemenangan. Demokrasi kita adalah demokrasi kerumunan  yang sering ingin diselesaikan dengan mobilisasi massa. (*)

Keywords


Rebutan Alumni

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


License URL: https://www.malang-post.com/netizen/opini/rebutan-alumni?limitstart=0