Budaya Filantropi Dalam Diri Elite Politik

Nurudin Misyafa'

Abstract


alam Encyclopedia of Wikipedia, filantropi adalah tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia serta nilai kemanusiaan, sehingga menyumbangkan waktu, uang dan tenaganya untuk menolong orang lain. Budaya filantropi perlu dibiasakan dan dipraktekkan oleh caleg dan anggota legislatif. Hal ini sebagai solusi mensiasati teori kebutuhan hidup dan tidak terjerat korupsi. Bagi caleg, filantropi menjadi penting agar ketika gagal menjadi anggota legislatif tidak putus asa dan depresi. Banyak caleg depresi karena telah mengeluarkan banyak uang, waktu, tenaga, namun tidak dibarengi dengan hasil yang memuaskan. Ikhlaskan pemberian anda kepada masyarakat sebagai bentuk kedermawanan. Uang, kaos, stiker, pendampingan, pelatihan, apapun yang anda berikan kepada konstituen, lupakan jangan menjadi beban agar anda tidak stress. Bagi yang sukses menjadi anggota legislatif, budaya filantropi juga penting untuk diikrarkan dalam dirinya. Konsep klasik mengembalikan modal kampanye, memperkaya diri sendiri dengan cara yang tidak halal perlu ditinggalkan dan dihindari demi menjadi wakil rakyat yang baik. Hakekatnya anggota legislatif adalah sekumpulan orang yang ingin beraktualisasi diri, bukan kelompok mafia yang memperkaya diri sendiri. Harta kekayaan yang telah habis dibuat kampanye biarkan berlalu tanpa mencari ganti. Tentunya yang dimaksud jangan mencari dengan korupsi, tetapi carilah dengan cara yang benar. Idealnya orientasi hidup caleg dan anggota legislatif bukan lagi pemenuhan kebutuhan dasar, bukan mencari uang semata, namun optimalisasi seni leadership, seni berpolitik, seni komunikasi, seni public speaking, serta seni lainnya yang menjadi kemampuan seorang caleg tampil di masyarakat.

Keywords


Budaya Filantropi Dalam Diri Elite Politik

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


License URL: https://www.malang-post.com/netizen/opini/budaya-filantropi-dalam-diri-elite-politik?start=1