Politik Hangat-Hangat Tahi Ayam

Nurudin .

Abstract


Masyarakat dan bangsa ini menjadi sibuk bukan lantaran dikehendaki, tetapi disebabkan oleh berbagai peristiwa yang timbul tenggelam silih berganti. Artinya, belum selesai sebuah kasus atau paling tidak berbagai wacana yang muncul, sudah timbul wacana lain. Masyarakat menjadi kian sibuk ikut dalam membangun wacana karena lingkungan di sekitarnya juga riuh dengan masalah itu. Jadi, masyarakat dipaksa mengikuti arus yang berkembang. Sekadar menyebut contoh adalah wacana-wacana yang muncul silih berganti dari percaturan politik di tanah air. Belum reda masyarakat dikenalkan istilah “sontoloyo”, sudah muncul istilah “tampang Boyolali”, “Genderuwo”, “negara bubar” dan sebagainya.Sebelumnya juga masih banyak berkembang berbagai istilah yang terus timbul tenggelam.   Sementara itu, berbagai istilah tersebut cenderung dipolitisir sesuai kepentingan politik masing-masing pihak. Istilah yang sebenarnya mengkritik berbagai perilaku menyimpang berubah menjadi istilah yang dianggap sarkastis. Masyarakat yang tidak tahu duduk persoalannya pun kemudian ikut riuh mempopulerkan wacana tersebut. Masalahnya, wacana tersebut  hanya didapatkan dari sumber yang sesuai dengan kepentingannya. Jadilah keriuhan tersebut menjadi sumbu peledak yang tidak produktif di masyarakat. Jadilah masyarakat kita seperti hangat-hangat tahi ayam. Semua informasi silih berganti muncul dan hilang entah kemana. Selera masyarakat kita sangat ditentukan oleh wacana yang berkembang. Sebut saja selera “hangat-hangat tahi ayam”.

Keywords


Politik Hangat-Hangat Tahi Ayam

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


License URL: https://www.malang-post.com/netizen/opini/politik-hangat-hangat-tahi-ayam