Quo Vadis Industri Halal

Rahmad Hakim

Abstract


Beberapa tahun terakhir diskursus tentang halal menjadi menarik untuk diperbincangkan. Jika tidak salah prediksi, penulis berasumsi akan terjadi pergeseran tren dari ekonomi syariah menuju halal beberapa tahun mendatang.Pergeseran tren ini terbukti dengan makin populernya diskursus perihal halal di ruang publik, baik melalui media konvensional, seperti televisi, media cetak, maupun daring. Mengutip Global Islamic Economy Indicators (GIEI) 2016/2017, terdapat tujuh pilar utama ekosistem ekonomi Islam, lima di antaranya berkaitan dengan halal, yaitu halal food, halal travel, halal media and recreation, dan halal pharmaceuticals and cosmetics. Dua indikator lainnya adalah Islamic finance dan modest fashion.Dengan melakukan survei terhadap 73 negara; 57 negara di antaranya adalah anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan 16 negara lainnya bukan termasuk anggora OKI, dinyatakan, Indonesia dalam konteks ekosistem ekonomi Islam, berada pada urutan kesepuluh dengan skor 36, Malaysia berada di urutan pertama dengan skor 121.Jika diselisik lebih dalam, dari tujuh indikator yang ada, hanya pada indikator halal pharmaceuticals and cosmetics (urutan 8) dan Islamic finance (urutan 9) saja Indonesia berada pada sepuluh besar. Sementara pada lima indikator lainnya, Indonesia tidak masuk sepuluh besar.Berdasarkan data GIEI tersebut, apakah yang perlu dilakukan untuk menyongsong tren halal di masa mendatang?

Keywords


Quo Vadis Industri Halal

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


License URL: https://www.republika.co.id/berita/kolom/wacana/18/12/17/pjv3pu440-quo-vadis-industri-halal