Persinggungan Selfie, Fotografi dan Politik

Radityo Widiatmojo

Abstract


Perbincangan fotografi dari perspektif teknis belaka tentu membuat pemikir kritis merasa miris. Susan Sontag di tahun 1970an, mengkritisi fotografi sebagai medium untuk melakukan objektivasi manusia melalui alat bernama kamera. Pemikiran senada juga disampaikan oleh Svarajati di tahun 2013. Berbeda dengan Solomon-Godeau yang memandang bahwa fotografi memiliki persinggungan yang kuat dengan politik, kekuasaan dan ketidakberdayaan dalam wujud representasi visual.Bagi Solomon-Godeau, fotografi memiliki sifat dualisme, yaitu Inside-Out. Di suatu saat ia bisa berada dalam dunia politik, di saat berlainan atau bersamaan mampu berpolitik di dalam dirinya sendiri, sehingga fotografi sejatinya mempunyai daya yang sangat kuat untuk mempengaruhi perilaku manusia, apalagi di tahun politik.Salah satu contohnya adalah perubahan perilaku selfie masyarakat yang dipengaruhi oleh nomer urut pasangan Capres 2019. Beberapa tahun belakangan, anak alay identik dengan pose tangan angka dua atau lebih dikenal sebagai v-sign. Di tahun politik, makna berpose seperti itu akan menimbulkan auto-tafsir. Fenomena yang sedang menjadi tren adalah pada saat mau foto bersama, semuanya sudah pada lupa angle untuk menampilkan pose terbaik.Yang ada adalah kebingungan menata gestur tangan, karena rawan terbaca sebagai bentuk dukungan terhadap salah satu pasangan Capres. Mengacungkan telunjuk atau memberi jempol, nanti dikira pro Jokowi, v-sign dikira pro Prabowo. Tangan di bawah nanti dikira orang jadul. Pokoknya menjadi serba salah karena tujuan akhir dari aktivitas foto bersama adalah grup WA.

Keywords


Persinggungan Selfie, Fotografi dan Politik

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


License URL: https://www.malang-post.com/netizen/opini/persinggungan-selfie-fotografi-dan-politik