Politik Tanpa Intrik

Sholahuddin Al Fatih

Abstract


Iklim politik di Indonesia sedang hangat. Setelah kasus RS yang penuh drama, kini drama baru mengarah ke Jawa Timur, tepatnya ke Malang. Setelah dua eks Kepala Daerah di wilayah Malang Raya tersandung kasus korupsi, yaitu Kota Batu dan Kota Malang, kini bola panas kasus dugaan korupsi mengarah ke Kabupaten Malang. Dana Alokasi Khusus (DAK) konon diduga menjadi penyebabnya. Hebatnya lagi, jika dicermati dari kasus dugaan korupsi di wilayah Malang raya, mereka bertindak sendirian, tanpa melibatkan wakilnya. One man show.Inilah wajah perpolitikan kita. Ketika nafsu dan ambisi telah memenuhi segenap relung hati, maka korupsi seolah menjadi tradisi. Celakanya lagi, korupsi hanyalah sebagian kecil dari modus dan intrik politik para elite di negeri ini. Modus yang lain sangat beragam jumlahnya, mulai dari menyebar hoax, menjadi pahlawan kesiangan hingga intrik curi start kampanye dengan modal baliho atau spanduk besar ucapan selamat yang terpampang di pinggir-pinggir jalan.Fenomena ini cukup memprihatinkan, membiaskan makna politik dan mencoreng nilai luhur demokrasi. Politik sejatinya bukan tempat bagi entitas yang tak bermoral. Politik sejatinya adalah cara untuk mencapai tujuan, yang cara-cara itu diwujudkan dengan hal-hal positif. Miris sekali jika melihat kondisi perpolitikan saat ini. Terlebih, dalam dua periode pemilu terakhir, dimana polarisasi dukungan justru menjadi arena untuk terwujudnya perang asimetris. Konflik antar sesame. Yang oleh Snouck Houngronje dulu disebut dengan politik devide et impera. Memecah belah bangsa, menggerogoti kedaulatan negara.

Keywords


Politik Tanpa Intrik

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


License URL: https://www.malang-post.com/netizen/opini/politik-tanpa-intrik