Menanti Pemimpin Peduli Lingkungan

Iradhad Taqwa Sihidi

Abstract


Pascaterpilih dan dilantik 24 September 2018, Wali Kota dan Wakil Kota Malang periode 2018-2023  Sutiaji – Sofyan Edi Jarwoko dihadapkan pada banyak tugas berat untuk membangun kota Malang yang berkelanjutan. Bukan saja soal reformasi birokrasi yang harus segera dibenahi pascakorupsi massal eksekutif dan legislatif dalam proses pembahasan RAPBD, namun lebih dari itu ada satu persoalan krusial yang selama ini kerap sengaja diabaikan yakni lingkungan. Predikat Malang sebagai salah satu kota besar yang saat ini dalam proses transformasi menuju daerah metropiltan beririsan dengan ragam persoalan yang kompleks. Kompleksitas tersebut tercermin dalam berbagai isu mulai dari sosial, ekonomi, dan lingkungan yang sampai saat ini sulit diurai dengan baik. Isu lingkungan khususnya menjadi debat menarik sebab fakta yang ada menunjukan ada kerusakan lingkungan yang cukup parah di Kota Malang. Fakta tersebut berkaitan dengan dua hal. Pertama, kesalahan penerapan kebijakan yang sangat tidak ramah lingkungan. Imbasnya, data menunjukan dalam kurun waktu lima tahun terakhir ada penyusutan yang cukup signifikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Malang. dalam catatan Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (Walhi ) diperkirakan RTH yang tersisa hanya 1,8  persen dari luas Kota Malang 110,6 kilometer persegi. Angka ini tentu jauh dari rasio ideal yang berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mensyaratkan minimal 30 persen dari total luas wilayah diperuntukan sebagai  kawasan RTH. Peruntukannya ialah 20 persen  menjadi ruang publik dan 10 persen untuk ruang privat. 

Keywords


Menanti Pemimpin Peduli Lingkungan

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.