Media Daring dan Pemilu Bermartabat

Nurudin .

Abstract


Pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) sudah dideklarasikan dan didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tugas penting bagi media massa Indonesia adalah bagaimana menciptakan media (pers) bermartabat untuk Pemilu berkualitas. Ini juga menjadi salah satu pekerjaan rumah dan harapan insan pers Indonesia sebagaimana dikatakan menteri Rudiantara dalam sebuah deklarasi Peran Pers dan Pemilu di Momumen Pers, Solo beberapa waktu lalu.Dalam acara itu, menteri berpesan bahwa peran media sangat signifikan saat kita ingin menegakkan negara yang berdemokrasi.  Demokrasi yang berkualitas tentunya  harus didukung oleh pers, oleh media yang berkualitas  yang profesional dan beretika.Pertanyaannya, apa kaitan antara Pemilu 2019 dengan peran pers? Tentu peran pers sangat signifikan dan penting. Bahkan bisa dikatakan, pers ikut mewarnai dan menentukan jalannya perhelatan Pemilu mulai sekarang.Salah satu yang berperan penting dalam memengaruhi Pemilu adalah peran media daring (online). Ini tak bermaksud memandang sebelah mata media mainstream (cetak dan elektronik). Masalahnya, media daring sedang dan akan terus tumbuh semakin pesat ke depan, bahkan mungkin tanpa kendali. Apalagi jika kita melihat kenyataan sekarang masyarakat lebih banyak memanfaatkan media daring untuk mendapatkan informasi. Data menunjukkan bahwa  saat ini Indonesia memiliki 43.300 media daring. Bahkan, banyak media didirikan tanpa modal dan kompetensi jurnalistik. Bahkan,sebagaimana diakui Dewan Pers, ada juga media yang mengaku lembaga swadaya masyarakat dan penegak hukum. Masalahnya, wartawan media daring masih banyak yang  miskin kompetensi.Media mainstream saja perlu kompetensi, apalagi media daring yang tumbuh bak jamur di musim hujan. Jika tidak kompeten, maka akan dihasilkan tulisan, gambar, grafis yang tidak bemutu. Buntutnya tentu tidak akan bisa dihasilkan Pemilu yang bermartabat sebagaimana kita inginkan. Apakah selama ini para wartawan itu tidak punya kompetensi? Bukan soal punya atau tidak punya tapi apakah kompetensi memang benar-benar dilaksanakan dalam tindakan nyata?Apalagi kompetensi pada media daring yang memang bisa muncul hanya berdasarkan kepentingan sesaat dan untuk kepentingan politis. Maka, sah dan wajar jika Dewan Pers punya tugas untuk memverifikasi media daring di Indonesia, lalu dibangun kompetensinya. Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah dan membutuhkan waktu panjang.Kompetensi jurnalis memang beragam. Namun, paling tidak secara elementer pernah dikemukakan oleh Dewan Pers.  Tiga kompetensi yang harus dipunyai seorang jurnalis yakni  kesadaran (awareness), mencakup kesadaran tentang etika, hukum, dan karir; pengetahuan (knowledge) mencakup pengetahuan umum dan pengetahuan khusus sesuai bidang kewartawanan yang bersangkutan; dan ketrampilan (skills) mencakup ketrampilan menulis, wawancara, riset, investigasi, menggunakan berbagai peralatan, seperti komputer, kamera, mesin scanned, faksimili, dan sebagainya (Nurudin, 2009).Ada juga ilmuwan Jerman, Siegfried Weishenberg (1990), pernah juga menawarkan  empat macam kompetensi yang diperlukan seorang wartawan agar bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Kompetensi itu antara lain; (1) kompetensi profesional, misalnya, melakukan editing, seleksi informasi, memahami komunikasi dasar dan sebagainya; (2) kompetensi transfer, misalnya, penguasaan bahasa, presentasi informasi, berbagai genre dalam jurnalisme dan sebagainya; (3) kompetensi teknis, misalnya, komputer, internet, disain grafis dan sebagainya; dan (4) kompetensi tingkat lanjut, misalnya, pengetahuan terhadap isu liputan tertentu, ilmu-ilmu sosial, bahasa asing dan sebagainya.

Keywords


Media Daring dan Pemilu Bermartabat

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


License URL: https://www.malang-post.com/netizen/opini/media-daring-dan-pemilu-bermartabat