Hoaks adalah Fakta Yang Tertunda (?)

Nurudin .

Abstract


Sudah banyak cara dilakukan untuk menekan penyebaran hoaks (hoax). Mulai dari dibuatnya aturan yang memberi sanksi pada penyebarnya, sampai himbauan lewat ajaran agama. Pertanyaannya, mengapa ia sulit diberantas? Bisa jadi salah satu alasan dari penyebarnyaadalah bahwa hoaks itu adalah fakta yang tertunda. Jika sudah begini dasarnya, maka hoaks tentu tidak mudah diberantas.Meskipun kita yakin, penyebar itu paham bahwa informasi yang disebarkan itu hoaks, namun tetap saja orang dengan senang hati menyebarkannya. Tak peduli apakah hoaks itu mengancam harmonisasi masyarakat, bertentangan dengan ajaran agama atau melanggar undang-undang, seseorang kadang tak peduli. Keinginan mereka, informasi disebarkanyang penting emosinya  bisa terluapkan.Mengapa hoaks tumbuh subur? Hoaks resmi tumbuh subur bak jamur di tengah hujan karena buntut perseteruan politik. Sebelum tahun 2014, mungkin kita mengenal hoaks tetapi tidak sedahsyat saat ini. Perbedaan pendapat sampai perseteruan tingkat tinggi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 terus berlanjut dan entah sampai kapan. Ini buntut ketidakpuasan di sana-sini, maka lahirlah ujaran-ujaran kebencian yang tidak produktif.Hoaks memang semakin parah karena justru pemerintah membuat aturan-aturan pelarangan sampai sanksinya. Dari sini penyebar hoaks bukan menjadi kapok, tetapi justru semakin menggila. Bahkan ada semacam keinginan; aturan dibuat untuk dilanggar. Pemerintah dalam hal ini tentu serba salah. Tidak membuat aturan berarti membiarkan penyebaran hoaks merajalela, namun demikian membuat aturan memang bisa menjerat, tetapi juga akan membuat perlawanan dari penyebar hoaks semakin militan.

Keywords


Hoaks adalah Fakta Yang Tertunda (?)

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.