Pilkada, Media Sosial, dan Hoax

Nurudin .

Abstract


Tak ada masalah yang mencemaskan kaitannya dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dan Pemilihan Presiden (Pilpres), kecuali beredarnya berita hoax. Meskipun sudah dilarang, bahkan penyebarnya bisa dikenakan sanksi, toh hoax tidak serta merta hilang begitu saja. Hoax adalah bagian dinamika perkembangan teknologi komunikasi yang didukung oleh perasaan suka dan tidak suka bukan benar atau tidak benar atas informasi.Sebenarnya hoax tidak berpotensi muncul di media mainstream (cetak dan elektronik). Masalahnya, dua jenis media ini jika melakukan hoax akan sangat mudah “dihukum”. Media mainstream juga diseleksi secara ketat mulai dari laporan wartawan, redaktur, visi misi media, bahkan pemilik modalnya.Namun demikian, hoax sangat berpotensi muncul di media sosial. Alasannya, media ini adalah media individual yang disebarkan ke wilayah publik. Jika seseorang menyebar hoax  akan sangat mudah karena hanya dirinyalah yang bertugas menyeleksi informasi itu. Yang lebih mengkhawatirkan adalah jika hoax dari media sosial itu kemudian dikonsumsi oleh media mainstream. Siapapun yang menyebarkan dan apapun bentuknya, merebaknya  informasi hoax menunjukkan kondisi masyarakat kita yang sedang “sakit”.

Keywords


Pilkada, Media Sosial, dan Hoax

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.