Politik, Media, dan Pasar Malam

Sugeng Winarno

Abstract


Apalah artinya politik tanpa media. Lihat saja para aktor politik yang sedang berlaga dalam ajang pilkada, pileg, dan pilpres. Semua berebut tampil di media. Mereka rela merogoh kocek demi bisa tampil di iklan televisi, menghiasi isi halaman koran, berkata merdu di radio, dan tampil menawan di media sosial. Semua ditempuh tidak lain demi berebut simpati, tebar pesona dan pencitraan. Perkawinan antara media dan politik memang sudah menjadi hal yang lumrah.            Lantas apa kaitannya politik dengan pasar malam? Bukankah pasar malam itu tempat orang mencari hiburan dengan menonton sejumlah atraksi menawan? Pertunjukkan memikat, mulai atraksi uji nyali tong edan, rumah hantu, hingga mainan kuda-kudaan yang bikin ramai suasana. Di pasar malam orang menggelar dagangan, menatanya dengan apik dan memikat. Makanan beraneka rupa dan rasa juga disajikan melengkapi suasana pasar malam yang hiruk pikuk.            Beraneka umbul-umbul juga dipasang di sekitar arena pasar malam. Warna warni kain yang diikatkan di batang bambu di tata berjejer menghiasi tanah lapang tempat pasar malam digelar. Lampu hias warna warni menjadi pemanis yang bikin senang, tidak saja bagi anak-anak kecil dan remaja, tetapi kerlap-kerlip lampu itu juga mencipta suasana gembira bagi yang tua. Tempat yang semula sepi itu mendadak jadi ramai lalu lalang orang menikmati aneka sajian.

Keywords


Politik, Media, dan Pasar Malam

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.