Donald Trump, Media AS, dan Yerusalem

Nurudin .

Abstract


Protes keras pengakuan Presiden Amerika Serikat atas Yerusalem sebagai ibukota Israel terus meluas.  Demonstrasi penolakan pendudukan Israel atas tanah Palestina selama ini saja sudah brutal, apalagi ada pernyataan resmi presiden dari Partai Republik itu. Bisa jadi, ini titik kulminasi tertinggi dari konflik Israel-Palestina yang melibatkan Amerika.Membahas peryataan Trump memang penting, tetapi yang tak kalah pentingnya adalah mengapa presiden AS itu berani mengakui secara terang-terangan? Apa kekuatan di baliknya serta apa dampaknya bagi konstelasi politik dunia? Tulisan ini lebih banyak menyoroti peran media AS yang selama ini mau tidak mau ikut berpengaruh, bukan hanya sekadar soal ucapan seorang presiden.Tentu saja, keputusan Trump menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel sangat menyedihkan jika dilihat dari semakin sempitnya ruang gerak warga Palestina. Sejarah pembantaian atas warga Yerusalem terus meluas dan semakin kuat oleh Israel.  Sejak 30 Januari 1922, Isreal semakin mendapat legitimasi setelah muncul Deklarasi Balfour. Gerakan ini bertambah luas saat gerakan Zionisme didengungkan. Saat pertama kalinya warga Yahudi menginjakkan kakinya di Yerusalem, jumlah warganya tidak lebih dari 5% dari populasi, sementara itu saat ini sudah mencapai 85% tanah Palestina.Konflik Yerusalem-Israel tidak boleh hanya dilihat dari konflik agama karena itu terlalu sempit dan mendanagkalkan masalah. Ia merupakan konflik kemanusiaan.  Konflik itu ibarat luka yang tidak kunjung sembuh, ditambah lagi setelah disiram air garam oleh AS. Resolusi PBB menolak keinginan AS menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israeal, namun  negeri yang disebut Paman Sam itu memvetonya.     

Keywords


Donald Trump, Media AS, dan Yerusalem

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.