Memaknai Pertambahan Usia

Ahmad Fatoni

Abstract


DETIK demi detik, menit ke jam, jam ke hari, begitu juga bulan seakan begitu cepat berganti tahun. Terasa baru kemarin tahun baru 2017, kini sudah memasuki tahun baru 2018. Baru kemarin menjadi anak-anak, kini kita telah beranjak dewasa. Tak disadari pula saat badan kita masih perkasa, kini mulai renta. Seolah baru kemarin duduk-duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), bermain petak umpet dengan teman sebangku atau bersenda gurau di bangku kuliah. Kini sebagian kita telah di sini dengan sejuta persoalan, sebagian telah merayakan reuni alumni yang ke-lima puluh, sebagian lain telah beranak cucu dan sulit menemukan rambut hitam di kepala.Apa yang diratapi budayawan KH. Mustofa Bisri  memang benar. Pergantian tahun—Hijriyah maupun Masehi—seakan datang dengan tiba-tiba. Maka, tidak sepantasnya menyambut setiap pergantian tahun baru dengan pesta pora. Semakin bertambah usia, berarti kian berkurang jatah hidup kita di dunia. Kita senyatanya banyak merenung, introspeksi, dan berbenah diri dari segala kesalahan. Demikian hakikat hidup sukses. Bukan saja kesuksesan dunia yang selalu kita buru, namun perlu ingat pula bekal amal untuk akhirat kelak.

Keywords


Memaknai Pertambahan Usia

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.