“Om Telolet Om” Adalah Kita

Najamuddin Khairur Rijal

Abstract


Jika membuka media sosial dalam sepekan terakhir, lini masa kita mungkin akan dipenuhi dengan “Om Telolet Om”. Sepekan terakhir jagat maya memang diramaikan oleh fenomena “Om Telolet Om”, bahkan menjadi trending topic dunia. Bukan hanya di Indonesia, kata “Om Telolet Om” juga digunakan oleh banyak orang di berbagai negara.Bagi sebagian orang, kata itu mengandung kelucuan, meski bagi sebagian yang lain merasa risih dan jengkel karena “Om Telolet Om” bertebaran di seluruh media sosial. Bahkan, pada sebuah status atau tulisan yang serius dan penting, alih-alih mendapat simpati dan respons, yang ada kolom komentar justru dipenuhi oleh “Om Telolet Om”. Donald Trump, presiden terpilih AS, salah satunya yang tidak lepas dari jerat netizen melalui “Om Telolet Om”.Fenomena “Om Telolet Om” yang mendunia tentu tidak terlepas dari peran media sosial dan fitur-fiturnya. Sebagai suatu yang kiranya kini telah menjadi kebutuhan dasar banyak orang, media sosial menjadikan kita, netizen, sebagai click activism ataupun hashtag activism yang gemar berbagi berbagai hal di akun-akun media sosial kita ataupun menggunakan tanda pagar # agar apa yang kita bagikan tergabung dengan hashtag yang sama dari banyak orang. Tapi untuk apa?

Keywords


“Om Telolet Om” Adalah Kita

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.