Arema dan Konstruksi Sosial

Hutri Agustino

Abstract


Salah satu dari empat aliran (madzhab) sosiologi klasik adalah interaksionisme simbolik (micro subjective). Fokus utama dari aliran Weberian tersebut adalah interaksi manusia serta proses produksi makna-makna dalam kehidupannya (verstehen). Sebagaimana saat kita mempelajari karya-karya seputar ilmu (science), logika (logic) dan filsafat (philosophy)—kehidupan manusia menjadi lebih bermakna karena mereka tidak hanya sekedar makan, minum, menghela nafas serta bereproduksi (basic needs). Dengan berbekal pada akal (reason) dan kesusilaan (morality), manusia dituntut oleh Tuhan untuk hidup lebih dari sekedar malaikat apalagi hewan atau binatang. Berbagai karya monumental manusia yang secara akumulatif membentuk sebuah tatanan peradaban yang bernilai seni tinggi (high civilization) telah menjadi eksemplar paling konkrit dari misi besar dalam kehidupannya. Sampai dengan jelang abad ke-22 saat ini, kita masih bisa mendengar bahkan menyaksikan secara langsung tentang kisah bangsa Yunani, bangsa Mesir Kuno, bangsa Romawi Kuno termasuk bangsa Nusantara yang begitu fenomenal dalam memberikan makna serta arti penting dari kehidupan manusia.            Dalam kerangka berpikir tersebut (paradigm), eksistensi tim sepak bola seperti Arema (Arek Malang) telah mencerminkan simbol identitas masyarakat lokal yang khas. Jika ditinjau dari teori konstruksi sosial  Peter L. Berger yang menjadi salah satu derivasi dari aliran interaksionis sebagaimana telah tersebut diatas, keberadaan Arema lebih dari sekedar tim sepakbola yang telah memiliki sejarah panjang dalam kompetisi resmi yang digelar oleh PSSI. Terlepas dari pasang-surut prestasi yang telah ditorehkan oleh tim, arek Malang sudah mengkonstruksi secara sosial bahwa Arema adalah jiwa. Realitas tersebut cukup menjadi reasoning atas jargon ‘salam satu jiwa’ yang menjadi salam pemersatu. Arema memang tidak kemana-mana, tetapi Arema ada dimana-mana. Makna dari nilai tersebut tentu mengingatkan kita pada semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika (unity in diversity)’ yang mengintegrasikan ratusan etnik-suku bangsa nusantara dengan budaya dan agama yang berbeda.Selanjutnya, telah menjadi realitas empirik bahwa olahraga mampu menjadi media yang mempersatukan pluralitas. Tidak peduli orang miskin, kelompok marginal, kaum cerdik-cendekia, laki-laki atau perempuan, anak atau lansia, orang desa atau orang metropolitian bahkan tidak jarang suporter justru memiliki idola olahragawan termasuk pesepakbola yang berbeda agama. Dalam fase kehidupan tertentu, perbedaan status agama menjadi alasan pemisah yang ekstrem. Tetapi, hal tersebut seperti tidak berlaku dalam dunia olahraga, khususnya sepak bola. Bagi kelompok yang menjadi fans berat Real Madrid, tentu mereka tidak akan mempertanyakan atau bahkan mempermasalahkan pilihan agama yang anut oleh C. Ronaldo sang idola. Pun begitu bagi pecinta Barcelona, mereka tidak akan pernah memimpikan L. Messi akan berpindah agama sesuai dengan yang sedang dianut oleh fans tersebut. Ketika sudah menghadap layar kaca untuk menonton el classico, yang ada hanya Real Madrid dan Barcelona, bukan lagi berpikir bangsa Spanyol, warga Portugal atau penduduk Amerika Latin. Begitu juga dengan kehadiran Arema bagi arek Malang.         

Keywords


Arema dan Konstruksi Sosial

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.