Mengemas Luka Perempuan dalam Cerita

Ahmad Fatoni

Abstract


KISAH percintaan begitu indah dan mengesankan. Bisikan rindu yang bertalu-talu, romantisme yang mengaliri segenap rasa, serta pesona asmara yang membuai jiwa. Akan tetapi, cerita cinta juga dapat memicu luka mendalam dan trauma berkepanjangan. Cinta yang selama ini identik dengan kesetiaan tak jarang menghadirkan rasa getir, bagaikan keramik yang kelak bisa retak.Fakta yang tak terbantahkan, gejolak cinta sering menyeret perasaan primitif seseorang pada kekecewaan, kegetiran, dan kehancuran. Bahkan, kesetiaan cinta terkadang berujung perpisahan akibat pengkhianatan. Padahal, kesetiaan merupakan modal utama bagi yang ingin mengarungi pergerakan rasa hingga menyinggasanai kursi pelaminan.Betapa banyak lelaki-perempuan yang menghikmati masa pacaran selama bertahun-tahun, lalu salah seorang sengaja berbelok haluan ke “lain hati” menjelang pesta perkawinan. Janur kuning penghias kursi pengantin tiba-tiba menjelma bambu runcing yang menusukkan luka ke orang lain, khususnya mantan pacar yang pernah diajak berbagi harapan. Luka itulah yang dialami Karen, tokoh utama dalam novel setebal 185 halaman ini.

Keywords


Mengemas Luka Perempuan dalam Cerita

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.