Membangkitkan Kembali Semangat Surau

Ahmad Fatoni

Abstract


SURAU merupakan tempat berkumpulnya anak laki-laki yang sudah akil baligh untuk tidur di malam hari dan menekuni bermacam ilmu dan keterampilan. Demikian gambaran A.A. Navis tentang surau dalam cerpen “Robohnya Surau Kami (1984)”. Fungsi surau tersebut tidak berubah setelah kedatangan Islam, tetapi diperluas menjadi tempat ibadah dan penyebaran ilmu keislaman. Buku yang ditulis Azyumardi Azra ini mengulas perkembangan surau sebagai lembaga adat keagamaan yang khas di Ranah Minangkabau. Seiring perkembangan zaman, orientasi surau selalu berubah-ubah. Bermula di masa Hindu-Budha sebagai tempat penyembahan nenek moyang dan dewa, kemudian saat Islam masuk bertransformasi menjadi lokus pendidikan Islam, dan juga sekaligus islamisasi sebagai implikasinya.Pada abad ke-18, surau di Ranah Minangkabau mengalami masa puncaknya ketika menjadi lembaga yang berada di atas desa-desa. Namun memasuki abad ke-19 dan ke-20, dengan berbagai kondisi situasional masa itu, eksistensi surau mulai goyah dengan munculnya madrasah sebagai hasil modernisasi pendidikan. Bahkan, pasca kemerdekaan eksistensi surau di Minangkabau berangsur surut karena lembaga pendidikan Islam di Indonesia harus tunduk pada aturan pemerintah.

Keywords


Membangkitkan Kembali Semangat Surau

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.