Merajut Pendidikan Alternatif Berbasis Komunitas

AHMAD FATONI

Abstract


Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan. Di Kota Gudeg inilah bertebaran kampus-kampus negeri maupun swasta. Banyak mahasiswa dari kampus-kampus tersebut memerlukan wahana berekspresi dan beraktualisasi diri di luar kehidupan kampus. Ikut komunitas tertentu adalah salah satu carannya. Di Yogyakarta kini telah berdiri ragam komunitas hobi maupun komunitas sosial. Buku Pendidikan Komunitas ini lahir dari sebuah kelas esai yang diikuti lebih kurang 9 peserta yang kemudian bertahan menjadi 7 orang. Kelas kepenulisan berlangsung selama tiga bulan intensif; mulai dari perkenalan dunia esai, memilih topik, melakukan riset pustaka dan observasi, menulis, mengedit, menulis lagi, mengedit lagi. Maka jadilah buku berisikan 7 esai ini yang berkisah tentang 7 komunitas dengan caranya sendiri mencoba merajut wacana keragaman dari pinggir Yogyakarta; sebuah realitas yang makin hari warnanya makin meluntur dan sobek di sana-sini.Kenyataannya, ikatan-ikatan tradisi yang dulu mengikat masyarakat, perlahan mengendur, dan akhirnya lepas sama sekali sejak pesiden Presiden Jokowi membuat kebijakan lelang jabatan yang mulai diterapkan pada jabatan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Konsekuensi kebijakan itu mendorong bahwa menduduki pos-pos strategis tidak cukup hanya mengandalkan ijazah kesarjanaan, tapi juga terlibat aktif dalam komunitas pergerakan.

Keywords


Merajut Pendidikan Alternatif Berbasis Komunitas

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.