Tergusurnya Peran Media dalam Pilkada

Husnun N Djuraid

Abstract


Pemilihan gubernur (Pilgub) DKI menyisakan banyak pertanyaan. Diantara pertanyaan itu adalah, mengapa jago petahana Basuki Tjahja Purnama (Ahok) – Djarot Saiful Hidayat kalah telak lawan penatangnya Anies Baswedan – Sandiaga Uno. Di balik kekalahan itu ada pertanyaan yang belum terungkap, bagaimana peran media dalam pesta demokrasi tersebut. Calon petahana Ahok – Djarot selama ini dikesankan sebagai calon yang banyak didukung oleh media. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya liputan, terutama di TV, yang menonjolkan calon nomor dua tersebut.Ini bisa dimaklumi, karena diantara partai pendukung pasangan nomor dua ini, ada partai yang ketuanya sebagai pemilik stasiun TV berita. Kasus Pilpres tahun 2014 terulang lagi, meskipun dalam persaingan  yang berbeda. Kala itu, ada dua calon, yakni Prabowo Subijanto melawan Jokowi. Prabowo didukung oleh TV One, karena pemilik TV, Aburizal Bakrie adalah ketua Golkar yang menjadi pedukung capres tersebut. Di pihak lain, Jokowi didukung oleh Surya Paloh, Ketua Nasdem yang memiliki Metro TV.Pertarungan sengit dua capres itu tercermin dalam pemberitaan di dua media tersebut. Kalau memberitakan calon yang didukung bosanya, maka yang ditampilkan adalah yang baik-baik saja. Sebaliknya, kalau memberitakan pihak lawan, yang ditampilkan lebih banyak sisi negative. Kalau pun ada sisi positif, persinya hanya sedikit. Model liputan berimbang terhadap dua pihak (cover bothside) tetap dilakukan, tapi dalam bentuk yang berbeda. Kalau pihak lawan porsi waktunya lebih sedikit dibanding calon yang didukungnya. Sebenarnya media lain seperti media cetak dan online juga terlibat dalam keberpihakan, tapi tidak begitu vulgar seperti TV.

Keywords


Tergusurnya Peran Media dalam Pilkada

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.