Yang Tak Larut dalam Dendam Sejarah

Ahmad Fatoni

Abstract


DALAM berbagai kesempatan, D. Zawawi Imron sering kali ditanya, “masih menulis puisi?” Pertanyaan yang membuat “Si Celurit Emas” terkadang merasa kikuk sendiri. Ada semacam sindiran, mengingat umurnya sudah melewati 60 tahun dianggap tidak pantas lagi jika masih menulis puisi. Akan tetapi, sangat boleh jadi, itu pertanda masih banyak orang yang mengharap penyair asal Madura itu terus menulis puisi.Apa pun tafsir dari pertanyaan orang, Zawawi cuma tersenyum bangga bahwa hidupnya masih dikaitkan dengan puisi. Melalui puisi, penyair yang mengakrabi alam dan budaya Madura ini tidak berhenti belajar menyelami jiwa kemanusiaan dan ayat-ayat Tuhan. Lewat puisi ia ingin bermetamorfosis menjadi manusia paripurna.Memang puisi bukan segala-galanya. Namun bagi Zawawi, puisi adalah salah satu jendela untuk menerawang denyut nadi kehidupan. Tentu di sana ada jendela-jendela lain yang tak boleh ditinggalkan. Yang pasti, puisi tak sepatutnya bila hanya sebatas nyanyian yang lahir dari kepedihan jiwa atau senyuman bibir belaka, demikian kata Kahlil Gibran.Melalui jendela antologi puisi ini, Zawawi coba memotret negeri Kincir Angin. Kendati pernah menjajah bangsa pribumi selama ratusan tahun, Belanda masa kini begitu menarik hati setiap peziarahnya. Zawawi pun rupanya tergoda dengan etos keilmuan, profesionalisme, dan kedisiplinan orang-orang Belanda. Gedung-gedungnya tampak berdiri kokoh tak tertandingi, kebersihan seolah menjadi cerminan bahasa penghuninya, hingga kegemaran bersepeda tanpa merasa rendah diri.Sajak-sajak yang terekam dalam kumpulan puisi ini tidak secara keseluruhan bicara tentang manusia dan alam Belanda. Tetapi puisi-puisi tersebut tidak mungkin ditulis tanpa berkunjung ke sana. Selain apa yang Zawawi lihat dan hayati, juga ada semacam gelegak batin yang dibawa dari tanah air yang tiba-tiba mengharubiru dan berdesakan untuk dituangkan dalam untaian kata-kata.  Sebagai anak asli pribumi, meski sedang melancong ke luar negeri, kerinduan Zawawi selalu lekat dengan keindahan alam perkampungan seperti lambaian pohon siwalan, desir angin pesisir, pekik bekisar dan ricik air  di sungai, juga kebersahajaan irama hidup kaum petani, tukang becak, penjual nasi pecel, dan penghidang soto daging. 

Keywords


Yang Tak Larut dalam Dendam Sejarah

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.